🏆 Untuk menutup semester ini, silakan papa mama membaca artikel berikut (yang diambil dari Raising Kids with Character That Lasts—John Yates and Susan Alexander Yates, ch. 3). Artikel ini akan membantu papa dan mama bersama anak untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, memiliki hati yang bersedia diajar untuk dapat memiliki ‘karakter’ buah roh seperti yang Ia kehendaki.
A Teachable Spirit
Memiliki hati yang bersedia diajar
- Susan Alexander Yates -
Dan jika dalam suatu pertimbangan, seseorang tidak menemukan kesalahan dari dirinya sendiri, namun menangis meminta ampun; hal ini adalah khayalan yang paling berbahaya—C.S. Lewis
Saya percaya tes pertama dari seseorang yang benar-benar hebat adalah kerendahan hatinya—John Ruskin
Kita jarang mendengar orang seperti itu, mau mengakui bahwa kesalahannya. Rasa sayang kami kepadanya semakin besar malam itu, hanya untuk alasan itu - ia mau mengakui kesalahannya. Ada sesuatu yang penting dalam hal ini. Kita mungkin tidak berpikir tentang hal itu, tapi dalam hal ini melekat suatu karakter yang kuat, yang akan kita pelajari. Hal itu menggambarkan seseorang dengan hati yang bersedia diajar.
Sebaliknya, pertimbangkan seorang pria yang lain. Pria ini dikenal sebagai pemimpin yang mempengaruhi banyak orang lain. Ia menyatakan bahwa ia menggunakan banyak talenta dan energi untuk membantu orang-orang datang kepada iman dan bertumbuh dalam iman. Ia bekerja keras dan mengerjakan banyak bagian serta sukses dalam pekerjaannya. Begitu sangat jelas bagi saya, dan untuk beberapa orang yang telah bekerja dengan dia, bahwa ia tidak menunjukkan hati yang rela untuk diajar. Bertahun-tahun, ia tidak berubah pikiran tentang kesalahan-kesalahannya. Saya perhatikan bahwa meskipun kadang-kadang ia meminta maaf, yang dilakukan selanjutnya adalah menyalahkan orang lain. Pria itu tidak mau diajar, dan akan sulit untuk bekerjasama atau berteman dengannya. Tidak mungkin bagi seseorang untuk bertumbuh jika ia tidak menyadari bahwa ia perlu terbuka untuk dikoreksi.
Hati yang bersedia diajar dimulai dengan kesadaran bahwa seseorang tidaklah sempurna, baik secara intelektual, moral, dan spiritual. Tak satu pun dari kita dapat mengerjakan semua hal. Orang bijaksana ingin terus bertumbuh dan terbuka belajar dari siapa pun. Daripada mencari pembenaran kesalahannya, ia ingin belajar dari kesalahannya dan karena itu tidak merasa tersinggung atau marah ketika kesalahan atau kekurangannya terungkap.
Orang yang bersedia diajar, memiliki kerendahan hati di hadapan Tuhan dan sangat bersyukur atas kemurahan Allah dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa ia telah melakukan banyak hal dalam hidupnya yang menyebabkan murka Allah, namun bukannya menghukum, Allah malah memberkatinya. Ia menjalani hidup dengan rasa syukur kepada Tuhan, dan hal ini membuat Allah berkenan mengembangkan dalam dirinya sifat-sifat yang semakin menyerupai Kristus. Buah roh - kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri - dapat tumbuh di dalam hati yang bersyukur. Seseorang dengan hati yang penuh rasa syukur akan lebih mungkin untuk memiliki hati yang bersedia untuk diajar. Kita ingin memiliki hati yang bersedia untuk diajar, kita juga ingin agar anak-anak kita juga memiliki hati yang demikian.
Empat komponen dari orang yang memiliki hati yang bersedia diajar :
1. Menghargai orang lain
Jika kita ingin menumbuhkan hati yang bersedia untuk diajar, kita harus menekankan bahwa setiap orang adalah berharga. Ketika kita hidup dengan cara ini, kita menjadi terbuka untuk belajar dari setiap orang. Allah dapat memilih orang-orang lain di sekitar kita untuk menjadi alat-Nya, sebagai latihan dalam hidup kita. Mungkin anak muda akan berbicara tentang kebijaksanaan kepada orang dewasa. Mungkin kerabat yang merepotkan kita adalah alat Allah dalam mengajar kita.
Belajar untuk selalu mencari kebaikan pada seseorang, dan mengubah percakapan ke arah yang positif adalah kebiasaan yang baik. Setiap orang memiliki karunia, kita dapat belajar dari mereka dan mendorong mereka untuk menggunakan karunianya. Ketika kita benar-benar menghargai orang lain, kita mengakui bahwa kita sering salah dalam penilaian tentang diri sendiri. Kapan terakhir kali Anda mengatakan kepada istri Anda, rekan kerja Anda, atau anak Anda, "Kamu yang benar, aku yang salah"?
2. Berpegang kepada kebenaran
Firman Allah dan prioritas Allah adalah pedoman kita belajar membedakan antara yang baik dan yang jahat, dan bagaimana membuat keputusan yang bijaksana. Jika kita ingin menuruti firman Allah, kita harus tahu apa yang dikatakanNya. Mempelajari FirmanNya dan menerapkannya ke hidup kita adalah dasar untuk mengetahui apa yang baik dan apa yang jahat. Ketika kita menegakkan Firman Tuhan sebagai otoritas dalam hidup kita, maka anak-anak kita akan menumbuhkan rasa hormat yang sama pada Firman Tuhan.
Membuat suatu keputusan yang bijaksana tidak selalu begitu sederhana, dengan mengatakan, "Apa yang Alkitab katakan tentang hal itu?" Jika demikian, tentunya hidup begitu mudah! Proses membuat keputusan yang terbaik sering melibatkan pemikiran yang cermat, diskusi, doa, Firman Tuhan, akal sehat, dan pandangan orang-orang Kristen bijaksana dari masa lalu dan masa kini.
Ambillah manfaat ketika Anda berjuang dalam membuat keputusan. Sharingkan kepada anak Anda tentang proses yang akan lalui untuk membuat pilihan. Biarkan anak Anda tahu bahwa Anda memperhatikan Firman Allah, tunjukkan kepadanya ayat-ayat tertentu. Akhirnya, ketika Anda memiliki keputusan, mintalah saran dari orang percaya yang mengenal Anda dengan baik. Mereka dapat memiliki wawasan tentang kelebihan dan kekurangan Anda.
3. Menghargai perspektif orang lain
Kecenderungan alami kita adalah menghabiskan waktu dengan orang-orang seperti kita. Namun, akan jauh lebih memperkaya kita dan bagi anak-anak kita, untuk berelasi dengan orang-orang yang mempunyai pengalaman hidup yang berbeda. Milikilah teman, seorang percaya dari negara asing, dan undanglah untuk makan malam dengan keluarga Anda. Mintalah mereka untuk berbagi tentang kehidupan mereka. Visi kita tentang Kerajaan Allah akan semakin luas, dengan kesaksian orang-orang dari negara yang berbeda.
Menghabiskan waktu dengan orang-orang yang lebih tua atau lebih muda dari kita, juga akan memperluas perspektif kita. Penting bagi kita untuk menghargai perspektif yang merefleksikan perspektif Allah. Allah tidak dibatasi oleh pandangan kita, Ia melihatnya dalam terang kekekalan.
4. Selalu rindu untuk bertumbuh
Cara untuk mengembangkan kerinduan anak-anak kita untuk bertumbuh adalah memiliki kerinduan dalam hidup kita sendiri. Secara sederhana, mintalah pada Allah. Mintalah agar Allah menciptakan kerinduan di dalam diri kita. Tuhan akan menyediakan waktu dan sarananya. Tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut dalam diri kita : “Apakah saya ingin bertumbuh? Adakah gairah saya dalam hidup untuk bertumbuh dalam hubungan saya dengan Kristus dan untuk membantu anak-anak saya bertumbuh? Apakah anak-anak saya melihat saya membaca firman Tuhan, berdoa, mengambil keputusan bersama Tuhan, dan terus berusaha untuk bertumbuh lebih lagi?“
Adakan waktu untuk bertemu dengan seorang teman yang sedang bertumbuh. Mintalah ia untuk berbagi apa yang dipelajarinya. Mintalah ia berdoa bagi Anda. Kerinduannya untuk bertumbuh akan merangsang kerinduan Anda.

Comments
Post a Comment